Bija
![]() |
| Sumber : flickr (Aleah Michele) |
Bija /bi·ja/ kl n biji; benih; bibit
Hujan di bulan Desember. Hembusan angin, gemericiknya air, bahkan aroma basahnya masih sama dengan 1 tahun yang lalu. Tahun itu dengan bulan yang sama dengan sekarang adalah awal mula ide tulisan ini lahir. Masa itu adalah masa dimana keresahanku muncul. Kala itu aku pijakan satu persatu kaki ini menuju gerbang. Gerbang yang bernama "terserah".
Ku beri nama terserah karena ku rasa semuanya memang terserah. Terserah kalian mau mengartikan apa. Mau kalian artikan gerbang akhir atau gerbang awal. Mau kalian artikan gerbang kegembiraan atau gerbang kebimbangan. Mau kalian artikan gerbang syukur atau gerbang kufur.
Makin dekat dengan gebang itu makin banyak juga ujian dan rintangannya. Walau ada rasa resah, kaki yang lelah harus tetap berjalan sebelum kalah. Kalah dari semua pikiran buruk yang ada dalam kepala sendiri. Karena kepala ini terkadang mendahului semua rencana-Nya. Berpikir banyak hal yang ditakuti padahal belum tentu terjadi.
Layaknya sebuah biji yang telah berakar dalam, itulah aku. Biji yang menurut perhitungan sudah waktunya untuk tumbuh keluar dari tanah namun belum siap untuk keluar. Banyak ketidaksiapan dan rasa takut yang di rasakan untuk melihat sinar di atas tanah. Ada rasa takut akar yang sudah tumbuh tak kuat menahan goncangan angin atau guyuran air. Takut saat melihat situasi di atas tanah tak seindah yang diperkirakan. Takut tunas baru terinjak. Takut kekeringan. Takut layu. Takut mati.
Padahal tanah yang ku tinggali adalah tanah baik. Seharusnya aku bisa tumbuh dengan cepat dan subur tapi ternyata "tumbuh" itu tak semudah yang dikira. Satu persatu biji-biji di sekitarku sudah keluar dari tanah yang sama. Mereka sudah melihat dunia di atas tanah. Ada penasaran dengan kondisi mereka di atas, apakah mereka senang atau malah menyesal keluar dari tanah. Apakah mereka berhasil tumbuh tinggi atau mereka patah di atas sana. Entahlah, yang dapat ku lihat dari bawah hanya akar-akar mereka saja. Aku sendiri masih merasa aman dan nyaman di dalam tanah kala itu.
Perjalanan ku akhirnya sampai di gerbang terserah. Berdiri paling depan, di hadapan orang banyak termasuk orang tuaku. Memakai baju kebesaran dan selempang emas. Wajahku terpampang di layar besar. Namaku disebut lantang dengan tambahan kata baru di akhirnya. Ternyata gerbang terserah ku semeriah ini. Dalam hati berbisik "oh ini rasanya yaa".
Tak terasa kemeriahan itu hanya sehari saja. Keesokan harinya aku tersadar belum keluar dari tanah. Aku hanya baru sampai gerbang. Kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Kehidupan yang telah dirasakan selama 4 tahun. Ruang lingkup sempit dan sulit berkembang namun nyaman tinggal disana. Keresahan yang kemarin hilang, sekarang kembali terasa.
Sejatinya hati kecilku juga kala itu ada keinginan untuk keluar dari tanah. Layaknya Ariel dalam karakter fiksi Disney yang ingin keluar dari perairan, berkeliaran bebas menghabiskan hari di atas tanah. Aku pun kala itu ingin pula segera menjadi tunas muda, keluar dari tanah menghirup udara baru dan melihat berbagai hal baru.
Namun keinginanku pun tidak ada artinya dikarenakan kecemasanku waktu itu lebih besar. Aku sang biji itu akhirnya hanya bisa sendiri menunggu waktunya untuk keluar. Menunggu waktunya siap berhadapan langsung dengan sinar, angin dan hujan. Aku membiarkan ketidaksiapan itu dan rasa takut itu tersembunyi dibawah tanah. Tak terlihat siapapun. Namun pertanyaanku kala itu bila kata "siap" itu tak kunjung dirasa, apakah aku tetap bisa hidup dibawah tanah?
Dan akhirnya pertanyaan itu terjawab di masaku yang sekarang. Di Desember hari ini.


Komentar
Posting Komentar