Semi

Sumber : Pinterest
se-mi n tunas; taruk
Sore kala itu ada sedikit cahaya yang masuk menyilaukan persembunyianku di dalam tanah. Sinar itu yang telah aku damba-dambakan sejak lama. Hingga dalam hati bertanya pada diri sendiri "apakah ini sudah waktunya keluar?".
Lubang kecil di atas sana tidak hanya membawa masuk cahaya hangat namun ia membawa masuk pula hembusan angin dan sedikit suara-suara kehidupan. Hayalan-hayalan indah hidup di atas tanahpun kembali masuk ke dalam angan pikiranku.
Sebelum benar-benar seluruh tubuh ini naik ke tempat baru, tak ada salahnya berbisik sedikit dengan penghuni atas tanah terlebih dahulu. Ku kirim pertanyaan-pertanyaan pada mereka disana. Beberapa dari mereka menjawab penuh antusias, memberi kabar bila di atas sana indah. Langit biru dan angin sejuk membuat mereka tumbuh tinggi dengan gembira. Lalu sebagian lainnya menjawab dengan menggebu-gebu, memperingatkan lebih baik tetap diam karena di atas tidak seindah yang dibayangkan. Terik matahari dan hama-hama membuat mereka berkembang tidak baik.
Mendengar jawaban mereka yang tidak sama membuat ku bimbang. Rasa penasaran dan takut bergabung jadi satu. Tapi ini kehidupanku, akulah yang harusnya menentukan sendiri jalan mana yang akan ku pilih. Bukankah semua jalan sama saja? Pasti ada berkelok, menaik dan menurun. Pasti ada banyak hal baik dari jalan yang ku pilih. Itu pikiran positif ku.
Sedangkan pikiran negatif ku ikut menimbrung dalam kepala. Bagaimana kalau jalan yang ku pilih salah?. Bukankah waktu tidak akan bisa diputar dan penyesalan pasti akan menghampiriku. Akan banyak waktu dan tenaga yang terbuang sia-sia bila jalan yang ku pilih salah.
Pusingnya dua pikiran bergelut dalam satu kepala. Hati juga ikut resah saat otak tidak baik-baik saja. Bila keadaannya seperti ini memang lebih baik menanyakan langsung pada Sang pemberi sebaik-sebaiknya petunjuk. Mengadahkan kedua tangan dengan tunduk berdoa penuh keyakinan. Ihdinash-shiroothol-mustaqiim. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Selanjutnya tinggal perhatikan dengan baik petunjuk-petunjuk tersembunyi yang diberikan-Nya.
Beberapa opini masuk ke telinga hingga ada satu opini yang membuatku yakin inilah petunjuk-Nya. Opini itu berbunyi "harus berani hijrah kalau ingin berubah". Ketika mendengar kalimat itu otak yang sedang bergelut dan hati yang sedang resah tiba-tiba diam sejenak. Memahami kembali kata demi kata pada kalimat itu. Lalu berakhir menyetujui kalimat itu.
Benar sekali, hidupku harus berubah. Aku harus mencoba hal baru. Aku harus berani melangkahkan kaki ke jalan yang baru. Menemukan apa-apa yang baru juga. Mau bagaimana ke depannya. Hidup atau mati. Bahagia atau menyesalnya aku kelak. Biarlah itu urusan nanti. Setidaknya aku sudah merasakan keluar dari dalam tanah.
Dari awal kisah ini memang hanya perumpamaan kehidupanku sebagai tumbuhan. Dan ini masa dimana aku bersemi. Biji kecil yang sebentar lagi mencoba berubah menjadi tunas muda.
Kenyataanya kala itu aku sedang risau memilih pilihan haruskah aku menerima tawaran menjadi honorer di tempat baru dengan kontrak 3 bulan. Atau tetap diam di kerjaan lama yang telah ku tempati selama 4 tahun. Memang bayaran di tempat lama tidak sebesar tawaran di tempat baru. Namun di tempat lama aku sudah menemukan rekan kerja dan atasan yang cocok. Sedangkan di tempat baru ini semuanya masih abu-abu.
Balik lagi dengan petunjuk berupa opini tadi. Akhirnya aku memilih jalan baru. Aku memilih keluar dan menginjakan langkah awal di tempat baru. Mencoba keluar dari zona nyaman ku selama ini.
1 Maret 2022 menjadi hari pertama aku muncul ke tempat baru. Melihat langit dan menghirup udara baru. Aku kan melangkahkan kaki ini dengan perlahan namun pasti. Bagaimana keadaan ku selanjutnya di atas tanah? Apakah langit biru menarik ku untuk tumbuh keatas atau angin mengajakku menjalar hingga ujung tepi? Atau tunas muda ini kan terinjak oleh kaki-kaki pemangsa? Atau malah terputus dari akar dan terbawa air bah saat hujan mengguyur?.
Tidak ada yang tau.

Komentar
Posting Komentar